🙏Selamat Datang di Website Resmi PD NW  Kabupaten Lombok Tengah 💌 Alamat Kantor: Jl. Sukarno Hatta No.14, Leneng, Kec. Praya, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. 83511. ✍️ Mohon tinggal kan jejak pelungguh untuk mengisi buku tamu di bawah👇🏻 🌃Alhamdulillah Acara Peresmian Kantor PDNW Lombok Tengah berjalan lancar dan Sukses

Kamis, 22 Oktober 2026, Oktober 22, 2026 WIB
Last Updated 2026-10-22T07:01:35Z
GALERY PDNWHeadlineHizbullah NWkegiatan PDNWPENGURUS CABANG NWPENGURUS PDNWPIMPINAN BANOM NW

ZIKRAYAT HAUL KE-29 Al-Magfurulah Maulanassyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid (Membaca Pesan Cinta, Zikir, Ilmu, Perjuangan, dan Adab Kepemimpinan)

 



ZIKRAYAT  KE-29

Al-Magfurulah Maulanassyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

(Membaca Pesan Cinta, Zikir, Ilmu, Perjuangan, dan Adab Kepemimpinan)

 

H. Muzakkir Walad

(Sekretaris PDNW Lombok Tengah NTB)

 

Refleksi syair TGH. Lalu Anas Hasyri, QH., As-Syaulaty dalam mengenang Al-Magfurulah Maulanassyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

 

Ketika seorang murid menyampaikan cinta melalui syair

 

لَكَ الْحَمْدُ، لَكَ الشُّكْرُ، لَكَ الْفَضْلُ مَدَى الدَّهْرِ، مَعَ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى النَّبِيِّ كَالْبَدْرِ. حَمْزَنْوَادِي ذُو الْبِرِّ، وَمَحْفُوظٌ مِنَ الشَّرِّ، وَمَنْطِقُهُ مَعَ الذِّكْرِ، وَمَصْدَرُهُ مِنَ الْفِكْرِ. لِذَا أُعْطِيَ مِنَ اللَّقَبِ مِنَ الرَّئِيسِ ذِي الْأَمْرِ، حَمْزَنْوَادِي مِنَ الْأَبْطَالِ، كَذَا ذَكِيٌّ مِنَ الشِّعْرِ. رَئِيسُ جَكْوِي قَدْ أَعْطَاهُ مِنَ اللَّقَبِ مَعَ الشُّكْرِ، لِإِنْدُونِيسِيٍّ مِنَ الْأَبْطَالِ، مَعَ الزُّمَلَاءِ ذَوِي الْغُرِّ. وَذَا اللَّقَبُ جَدِيرٌ لَهُ، لِمَا فِيهِ مِنَ الْخَيْرِ، مَعَ الْجِهَادِ لِلْوَطَنِ، وَأَيَادِيهِ كَالْبَحْرِ. وَعِلْمُهُ وَبَرَكَتُهُ، كَرَامَتُهُ مَعَ الْكَثْرِ، عَسَى اللَّهُ يُسَهِّلُهُ بِجُودِهِ، جَنَّةَ الْبِرِّ. مَعَ الطُّلَّابِ جَمَاعَتُهُ، بِلَا عَدٍّ وَلَا حَصْرِ، كَذَاكَ مَنْ يُتَابِعُهُ مِنَ الْأَوْلَادِ ذَوِي الْبِرِّ. وَنَهْضِيِّينَ وَالْمُسْلِمِينَ، بِدُونِ تَشَابُهِ الْكُفْرِ، لَهُمْ طُوبَى لَهُمْ بُشْرَى، مِنَ اللَّهِ الْعَلِيِّ الْقَدْرِ. وَذِي تُحْفَةُ ذِي الْفَقْرِ إِلَى اللَّهِ، أَنَسْ حَشْرِي، فَيَا اللَّهُ أَكْرِمْهُ، مِنَ الْعِلْمِ، مِنَ الْأَجْرِ. وَحَمْدُ اللَّهِ عَلَى الْيُسْرِ، مَعَ تَسْلِيمَةٍ تَسْرِي، عَلَى النَّبِيِّ ذِي الْبِشْرِ، مَعَ الصَّحْبِ ذَوِي السِّرِّ.

 

Syukur dan puji kepada Allah, 

Yang telah memberi banyak barokah.

Salawat dan salam kepada Nabi, 

Keluarga, sahabat, serta tabi'in.

Syekh Maulana pahlawan bangsa, 

Anugerah dari presiden kita.

Karena banyak mengabdikan diri, 

Pada agama dan negeri ini.

Zikir dan wiridnya basah lidahnya, 

Pagi dan sore tiada hentinya.

Bangun malamnya tak pernah absen, 

Kami saksikan di Abror, pesantren.

Sungguh karomah Bapak Maulana, 

Mendapat gelar pahlawan bangsa.

Anugerah dari Bapak Jokowi, 

Karena jasanya di negeri ini.

Fatwa-fatwanya patut didengar, 

Kepada Allah tak pernah ingkar. 

Taat kepada Ilahi diutamakan, 

Kalau mengajar tak bosan-bosan.

Bapak Maulana panutan kita, 

Semua ilmu diajarkannya. 

Bagaikan pelita di kegelapan, 

Jannatul Ma'wa jadi harapan.

 

Pada hari Rabu, 21 Oktober 2026, bertempat di Lapangan Umum Ummuna Al-Mujahidah Hj. Sitti Raihanun ZAM, diselenggarakan peringatan Haul ke-29 Al-Magfurulah Maulanassyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, seorang ulama besar, pendidik, pejuang umat, dan Pahlawan Nasional yang meninggalkan warisan keilmuan, perjuangan, serta nilai-nilai keagamaan bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat dan Indonesia.

Haul bukan sekadar agenda mengenang tanggal wafat seorang tokoh. Haul adalah peristiwa spiritual dan kultural ketika generasi penerus kembali menengok akar sejarahnya, menimbang warisan perjuangan pendahulunya, serta memperbarui komitmen untuk meneruskan nilai-nilai yang diwariskan. Di tengah suasana penuh khidmat dan penghormatan tersebut, salah satu murid kesayangan Al-Magfurulah, TGH. Lalu Anas Hasyri, QH., As-Syaulaty, menyampaikan zikrayat atau kesan-kesan tentang gurunya. Beliau tidak hanya menghadirkan kenangan dalam bentuk cerita,  juga mempersembahkan sebuah syair yang diciptakan untuk menghormati sang guru agung.

Syair itu, sebagaimana makna yang berhasil al-faqir tangkap dari penyampaiannya, menggambarkan Maulanassyaikh sebagai sosok yang berbicara dengan zikir, berbicara dengan hati, cerdas dan terampil menciptakan lagu serta syair, seorang Pahlawan Nasional, dan pribadi yang memiliki keluasan ilmu, keberkahan, serta kelebihan yang begitu banyak. Di antara pesan yang paling menarik perhatian ialah ungkapan agar suara makmum tidak lebih besar daripada suara imam.

Sekilas, syair tersebut tampak seperti pujian seorang murid kepada gurunya. Jika direnungkan lebih dalam, pujian itu sesungguhnya dapat dibaca sebagai sebuah potret tentang karakter, metode pendidikan, kepribadian, kepemimpinan, dan tata kelola organisasi yang diwariskan Maulanassyaikh. Ada zikir yang membentuk kesadaran batin. Ada hati yang menjadi sumber ketulusan. Ada seni yang menjadi kendaraan dakwah. Ada perjuangan yang melampaui kepentingan pribadi. Ada ilmu yang menghasilkan manfaat dan keberkahan. Dan ada adab kepemimpinan yang mengajarkan pentingnya keseimbangan antara suara pemimpin dan suara orang-orang yang dipimpinnya.

Syair TGH. Lalu Anas Hasyri dapat dipahami bukan semata-mata sebagai ungkapan kerinduan seorang murid, melainkan sebagai peta nilai untuk memahami siapa Maulanassyaikh, bagaimana beliau mendidik umat, dan bagaimana generasi penerus seharusnya melanjutkan perjuangannya. Penafsiran al-faqir ini hanya mengambil intisari (keyword) dari apa yang al-faqir dengar, simak, dan pahami dengan berusaha menjaga makna yang ditangkap tanpa menganggapnya sebagai transkripsi harfiah dari ucapan TGH. Lalu Anas Hasyri.

 

SYAIR TGH. LALU ANAS HASYRI DALAM PERSPEKTIF HISTORIS

1.    Maulanassyaikh sebagai ulama yang hidup dalam sejarah perjuangan

Untuk memahami mengapa seorang murid menggambarkan gurunya melalui zikir, hati, seni, kepahlawanan, ilmu, dan adab kepemimpinan, kita perlu melihat Maulanassyaikh dalam konteks sejarah hidupnya. TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid lahir di Lombok Timur pada 20 April 1908. Beliau dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Wathan, organisasi yang didirikan pada 1935, dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh negara pada 9 November 2017. Perjuangannya berkaitan erat dengan pendidikan Islam, dakwah, pembangunan kesadaran kebangsaan, dan perlawanan terhadap kolonialisme.

Perspektif sejarah, hal ini penting karena Maulanassyaikh bukan hanya tokoh yang mewariskan ajaran agama secara individual. Beliau membangun jalan perjuangan melalui pendidikan, kaderisasi, dan organisasi yang memungkinkan gagasannya diteruskan kepada generasi berikutnya.

Syair yang dipersembahkan TGH. Lalu Anas Hasyri dapat dibaca sebagai bentuk sejarah lisan, pengalaman seorang murid digunakan untuk mengingat, memahami, dan mewariskan karakter gurunya. Kenangan seperti ini memiliki nilai penting, meskipun tetap perlu dibedakan dari dokumen sejarah formal.

Ada tiga makna historis yang dapat ditarik. Pertama, sejarah seorang ulama tidak cukup dibaca melalui tanggal dan peristiwa. Sejarah juga perlu dibaca melalui kebiasaan, tutur kata, cara mendidik, karya, serta pengaruhnya terhadap kehidupan orang-orang yang pernah belajar kepadanya. Keterangan seorang murid yang mengenal gurunya secara langsung dapat membantu generasi berikutnya memahami dimensi keseharian yang tidak selalu tertangkap dalam biografi resmi. Kedua, seni dan syair merupakan bagian dari sejarah dakwah. Jika Maulanassyaikh dikenang sebagai pribadi yang cerdas menciptakan lagu dan syair, hal tersebut memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi sarana menyampaikan gagasan, membangun ingatan kolektif, dan menanamkan nilai keagamaan. Pesan yang disampaikan melalui syair dapat bertahan dalam ingatan karena bahasa yang indah sering kali lebih mudah diingat, diulang, dan diwariskan daripada penjelasan yang panjang. Ketiga, gelar Pahlawan Nasional menunjukkan bahwa pengabdian keagamaan dan kepentingan kebangsaan dapat berjalan bersama. Maulanassyaikh tidak hanya dikenang dalam lingkungan keagamaan, tetapi juga dalam sejarah Indonesia. Meneladani beliau berarti merawat agama sekaligus mengambil tanggung jawab terhadap pendidikan, persatuan, kemanusiaan, dan kehidupan bangsa.

Dari sudut pandang ini, syair TGH. Lalu Anas Hasyri dapat dipahami sebagai upaya menghubungkan masa lalu dengan masa kini, seorang murid menghidupkan kembali nilai-nilai guru agar tidak berhenti menjadi kenangan, melainkan menjadi pedoman bagi generasi penerus.

 

2.    Haul sebagai ruang pewarisan sejarah antargenerasi

Haul memiliki dimensi yang lebih luas daripada mengenang seorang tokoh. Di dalamnya berlangsung proses pewarisan identitas, nilai, dan ingatan kolektif. Generasi yang pernah berjumpa langsung dengan Maulanassyaikh memiliki pengalaman yang berbeda dari generasi yang hanya mengenal beliau melalui buku, foto, rekaman, atau cerita. Kesaksian seorang murid senior menjadi jembatan antara pengalaman generasi pertama dan imajinasi generasi berikutnya. Ketika TGH. Lalu Anas Hasyri menyampaikan kesan melalui syair, beliau tidak sekadar mengatakan bahwa gurunya hebat. Beliau sedang menerjemahkan pengalaman personal menjadi pesan yang dapat dimiliki bersama. Di sinilah pentingnya dokumentasi. Syair tersebut, apabila direkam dan ditranskripsikan secara utuh, dapat menjadi bagian dari khazanah sejarah lisan Nahdlatul Wathan. (Maaf Al-Faqir tidak memiliki utuh naskah syair asli, hanya rekaman suara pada saat acara Haul tersebut).

Pesan historis yang bisa kita ambil adalah

Seorang tokoh tidak benar-benar diwariskan hanya karena namanya terus disebut. Ia diwariskan ketika pengalaman hidup, nilai, dan perjuangannya dipahami secara benar serta diteruskan dalam tindakan nyata.



SYA’IR TGH. LALU ANAS HASYRI PERSPEKTIF FILOSOFIS (DARI ZIKIR MENUJU PERADABAN)

Perspektif filosofis mengajak kita bertanya bukan hanya tentang apa yang dikatakan syair, melainkan juga tentang manusia seperti apa yang hendak dibentuk oleh nilai-nilai di dalamnya.

1.    Berbicara dengan zikir (Ketika kesadaran kepada Allah menjadi orientasi hidup)

Ungkapan ini dapat dimaknai bahwa zikir tidak terbatas pada ucapan lisan, tetapi menjadi kesadaran yang membimbing pikiran, perkataan, keputusan, dan tindakan. Zikir dalam pengertian ini adalah orientasi batin, manusia menyadari keterbatasan dirinya, mengingat pertanggungjawabannya kepada Allah dan berusaha menjaga perilakunya agar tidak dikuasai kesombongan, kebencian, atau kepentingan sesaat. Orang yang berbicara dengan zikir idealnya tidak sekadar banyak menyebut nama Allah. Ia juga berusaha menjaga agar kata-katanya tidak melukai tanpa alasan, tidak menyesatkan, tidak memfitnah, dan tidak menjadikan agama sebagai alat untuk menguasai orang lain. Zikir mempunyai dimensi etis.

a.     Dalam berbicara, zikir mengingatkan manusia akan tanggung jawab terhadap kebenaran.

b.     Dalam memimpin, zikir mengingatkan bahwa jabatan adalah amanah.

c.     Dalam berorganisasi, zikir mengingatkan bahwa keberhasilan bukan alasan untuk menghalalkan segala cara.

d.     Dalam menghadapi perbedaan, zikir mengingatkan bahwa lawan pendapat tetaplah manusia yang harus diperlakukan dengan adab.

Dari sudut pandang ini, pujian terhadap Maulanassyaikh bukan sekadar menggambarkan kebiasaan beribadah. Pujian tersebut dapat dibaca sebagai penghormatan kepada pribadi yang idealnya menghadirkan nilai-nilai agama ke dalam kehidupan nyata.

 

2.    Berbicara dengan hati (menyatukan kebenaran dan ketulusan)

Berbicara dengan hati tidak berarti mengabaikan akal, ilmu, atau pertimbangan yang rasional. Sebaliknya, ia berarti menyatukan kecerdasan dengan ketulusan. Seseorang dapat memiliki ilmu yang tinggi, tetapi menggunakan ilmunya untuk merendahkan orang lain. Seseorang dapat memiliki kemampuan berbicara yang luar biasa, tetapi kata-katanya hanya bertujuan memperoleh pujian. Seseorang juga dapat menyampaikan kebenaran, tetapi dengan cara yang justru menutup pintu dialog. Filosofi berbicara dengan hati menuntut keseimbangan antara tiga hal :

Pertama, Akal yang jernih (Memahami persoalan, memeriksa fakta, dan menyampaikan sesuatu dengan pertimbangan yang matang). Kedua, Hati yang tulus (Menjaga niat, menghindari kesombongan, dan mengutamakan kemaslahatan daripada kemenangan pribadi). Ketiga, Lisan yang beradab (Menyampaikan kebenaran secara tepat, santun, dan sesuai dengan kebutuhan serta keadaan pendengar).

Jika ketiganya menyatu, perkataan tidak hanya terdengar benar, tetapi juga mempunyai tujuan yang benar dan disampaikan dengan cara yang tepat. Dalam pendidikan, filosofi ini mengajarkan bahwa guru tidak cukup membuat murid memahami materi. Guru juga perlu menumbuhkan kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, dan kemampuan menghormati orang lain. Dalam kepemimpinan, filosofi ini mengajarkan bahwa keputusan yang baik bukan hanya keputusan yang sah secara prosedural, tetapi juga keputusan yang dilandasi pertimbangan moral dan kemaslahatan bersama.

 

3.    Cerdas menciptakan lagu dan syair (keindahan sebagai jalan ilmu)

Mengapa kemampuan menciptakan lagu dan syair layak menjadi bagian dari penghormatan kepada seorang ulama?. Karena pengetahuan tidak selalu diwariskan melalui ceramah dan kitab. Pengetahuan juga dapat disampaikan melalui keindahan bahasa, irama, metafora, dan simbol. Syair dapat memadatkan gagasan yang panjang menjadi ungkapan singkat. Lagu dapat membuat pesan melekat pada ingatan. Keduanya dapat membantu manusia bukan hanya mengetahui sesuatu, tetapi juga merasakan dan menghayatinya.

Perspektif estetika, keindahan bukan lawan dari kebenaran. Keindahan dapat menjadi jalan untuk mendekatkan kebenaran kepada pengalaman manusia. Di sini terdapat pelajaran penting, seorang pendidik perlu memahami bukan hanya apa yang harus diajarkan, tetapi juga bagaimana ilmu dapat disampaikan agar menyentuh pikiran dan hati.

Kreativitas Maulanassyaikh, sebagaimana tergambar dalam syair tersebut, dapat ditafsirkan sebagai kemampuan mempertemukan ilmu, seni, dan dakwah.

 

Ilmu memberi isi

Seni memberikan bentuk

Dakwah memberikan arah pengabdian.

 

4.    Ilmu, keberkahan, dan kelebihan. (Melampaui ukuran kecerdasan semata)

Pujian bahwa Maulanassyaikh memiliki banyak ilmu, keberkahan, dan kelebihan mengandung persoalan filosofis yang mendalam, apa ukuran keberhasilan seorang berilmu?. Ada ilmu yang membuat seseorang semakin terampil. Ada ilmu yang meningkatkan kemampuan memecahkan masalah. Tradisi keagamaan, ilmu juga diharapkan membentuk akhlak dan membawa manfaat bagi sesama. Keberkahan, dalam pemahaman religius, dapat dipahami sebagai kebaikan yang berkembang, memberikan manfaat, dan menghadirkan dampak yang melampaui kepentingan individual.

Keberkahan ilmu tidak semata-mata diukur dari banyaknya orang yang memuji guru. Ia dapat dilihat dari murid yang menjadi lebih baik, lembaga pendidikan yang berkembang, masyarakat yang memperoleh manfaat, dan nilai-nilai yang terus hidup setelah sang guru wafat. Kelebihan seorang tokoh pun tidak harus dipahami sebagai alasan untuk berhenti berpikir kritis. Justru penghormatan yang matang mengajak kita mengenali keunggulannya secara proporsional, mempelajari karya dan keteladanannya, serta menguji bagaimana nilai-nilai itu dapat diterapkan dalam keadaan sekarang.

 

SYA’IR TGH. LALU ANAS HASYRI PERPEKTIF PSIKOLOGIS

Mengapa kenangan seorang murid dapat begitu kuat?

Perspektif psikologi membantu kita memahami hubungan guru dan murid, kekuatan kenangan, pembentukan karakter, dan alasan mengapa pesan seorang guru dapat bertahan sepanjang hidup.

1.    Guru sebagai figur yang membentuk identitas batin murid

Proses pendidikan, guru tidak hanya menjadi sumber informasi. Guru juga dapat menjadi figur teladan yang memengaruhi cara murid berpikir, mengendalikan diri, memandang kehidupan, dan menentukan apa yang dianggap baik atau buruk. Seorang murid mungkin lupa sebagian materi pelajaran yang diterimanya. Namun, ia dapat terus mengingat cara gurunya menasihati, ketenangannya ketika menghadapi masalah, kesungguhannya beribadah, atau kebijaksanaannya ketika mengambil keputusan. Hal ini terjadi karena pembelajaran manusia tidak hanya berlangsung melalui informasi, tetapi juga melalui pengamatan, pengalaman emosional, dan peneladanan.

Konteks hubungan TGH. Lalu Anas Hasyri dengan Maulanassyaikh, syair yang dipersembahkan dapat dipahami sebagai ekspresi dari proses internalisasi nilai, karakter sang guru telah menjadi bagian penting dari cara sang murid memaknai pendidikan dan pengabdian. Kita tentu tidak dapat memastikan keadaan psikologis pribadi beliau hanya berdasarkan syair yang diceritakan. Tindakan mempersembahkan syair kepada guru menunjukkan bagaimana kenangan dan penghormatan dapat diolah menjadi sebuah karya yang bermakna.

 

2.    Zikir dan hati sebagai simbol pengendalian diri

Zikir yang dilakukan secara khusyuk dapat berfungsi bagi sebagian orang sebagai praktik pemusatan perhatian, penenangan batin, dan penguatan makna hidup. Ketika seseorang membiasakan diri mengingat Allah, ia dapat memiliki ruang untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi terhadap kemarahan, tekanan, atau konflik. Pengalaman tersebut tidak otomatis menghilangkan masalah, tetapi dapat membantu membentuk respons yang lebih terkendali. Simbol “berbicara dengan hati” mengingatkan kita pada kemampuan memahami perasaan diri sendiri dan orang lain.

Orang yang memiliki kematangan emosional berusaha membedakan antara apa yang dirasakannya dan apa yang sebaiknya dikatakannya. Ia tidak selalu mengungkapkan setiap kemarahan, tidak mudah mempermalukan orang lain, dan tidak menjadikan perbedaan pendapat sebagai ancaman terhadap harga dirinya. Dalam lingkungan pendidikan dan organisasi, kualitas semacam ini sangat berharga. Banyak konflik bukan semata-mata muncul karena perbedaan gagasan, tetapi karena cara menyampaikan gagasan, cara menerima kritik, dan ketidakmampuan mengelola perasaan. Maka, secara psikologis, zikir dan hati dapat dibaca sebagai dua pengingat: menjaga hubungan vertikal dengan Allah sekaligus memperbaiki hubungan horizontal dengan manusia.

 

3.    Syair sebagai wadah kerinduan dan pemaknaan kehilangan

Kehilangan seorang guru yang dicintai dapat menimbulkan kerinduan yang mendalam. Salah satu cara manusia mengolah kerinduan adalah melalui cerita, doa, karya seni, dan kegiatan mengenang. Syair memiliki kekuatan khusus karena dapat mengubah emosi menjadi bahasa. Sesuatu yang sulit dijelaskan melalui percakapan biasa dapat disampaikan melalui irama, perumpamaan, dan pilihan kata. Konteks haul, syair bukan hanya ekspresi kesedihan karena guru telah wafat. Ia juga dapat menjadi bentuk pengolahan kehilangan yang mengarahkan seseorang kembali kepada nilai yang diwariskan oleh orang yang dikenangnya.

 

Kerinduan tidak harus berhenti sebagai perasaan ingin kembali ke masa lalu

Kerinduan dapat berubah menjadi tekad untuk meneruskan kebaikan

 

Murid yang merindukan ketulusan gurunya dapat berusaha menjadi lebih tulus. Murid yang merindukan keluasan ilmunya dapat memperdalam belajar. Murid yang merindukan keberanian gurunya dapat belajar menghadapi persoalan dengan tanggung jawab.

 

4.    Pesan tentang imam dan makmum sebagai latihan mengelola ego

Pesan bahwa suara makmum jangan lebih besar daripada suara imam dapat dibaca sebagai metafora tentang pengendalian diri. Manusia memiliki kebutuhan untuk diakui, didengar, dan dihargai. Kebutuhan tersebut wajar. Tapi apabila kebutuhan untuk menonjol menjadi terlalu dominan, seseorang dapat mengabaikan tujuan bersama. Dalam sebuah organisasi, misalnya, seseorang mungkin merasa harus selalu berbicara, selalu mendapatkan pujian, atau selalu menjadi pusat perhatian. Bahkan, ketika sebuah keputusan telah ditetapkan melalui mekanisme yang sah, ia mungkin terus membangun pertentangan hanya agar pendapatnya terlihat paling benar.

Metafora imam dan makmum mengajak kita mengelola kebutuhan tersebut. Tidak semua keadaan menuntut kita menjadi orang yang paling terdengar. Ada saatnya memimpin, ada saatnya menyampaikan pendapat, ada saatnya mendengarkan, dan ada saatnya mendukung keputusan bersama.

Pengendalian ego tidak sama dengan menghilangkan keberanian atau membungkam kritik. Kematangan psikologis justru tampak ketika seseorang mampu menyampaikan ketidaksetujuan secara tegas tanpa harus merendahkan orang lain.

 

Kedewasaan bukan berarti selalu berbicara paling keras, melainkan mampu memilih kapan harus berbicara, kapan harus mendengarkan, dan bagaimana menempatkan kepentingan bersama di atas dorongan untuk selalu menang.

 

 

 

 

 

 

SYA’IR TGH. LALU ANAS HASYRI PERSPEKTIF SOSIOLOGIS

Syair Sebagai Perekat Masyarakat Dan Identitas Kolektif

Ilmu sosiologi melihat manusia sebagai bagian dari hubungan sosial, kelompok, tradisi, dan lembaga. Dari sudut ini, syair tentang Maulanassyaikh bukan hanya milik penciptanya, tetapi berpotensi menjadi medium yang memperkuat ikatan sosial para murid, jamaah, dan generasi penerus.

 

1.    Haul membangun ingatan kolektif.

Ingatan kolektif adalah cara suatu kelompok mengingat tokoh, pengalaman, dan peristiwa yang dianggap penting bagi identitas bersama. Bagi komunitas yang terhubung dengan Maulanassyaikh, haul dapat menjadi ruang untuk menegaskan kembali siapa yang mereka teladani, nilai apa yang mereka pegang, dan perjuangan apa yang ingin mereka lanjutkan. Syair yang dinyanyikan atau disampaikan di hadapan jamaah dapat mengubah pengalaman individual seorang murid menjadi pesan yang dapat didengar oleh banyak orang.

Seseorang yang belum pernah bertemu Maulanassyaikh mungkin belum memiliki pengalaman pribadi tentang beliau. Melalui cerita dan syair, ia dapat memperoleh gambaran mengenai nilai-nilai yang diwariskan. Syair menjadi jembatan antara pengalaman individual dan identitas kolektif.

 

2.    Seni membangun solidaritas lintas generasi

Dalam masyarakat, simbol memiliki kekuatan untuk mengikat orang-orang yang tidak selalu saling mengenal secara pribadi. Bendera, lambang, lagu, cerita perjuangan, dan syair dapat menciptakan rasa memiliki terhadap suatu komunitas. Ketika anggota komunitas menyanyikan atau menghayati karya yang sama, mereka memperoleh bahasa bersama untuk mengekspresikan nilai dan identitasnya.

Kreativitas Maulanassyaikh, sebagaimana digambarkan dalam syair tersebut, dapat dipahami sebagai bagian dari warisan budaya dakwah yang membantu menyatukan pesan agama dengan pengalaman sosial masyarakat. Karya seni juga memungkinkan nilai-nilai diwariskan melalui saluran yang berbeda. Anak-anak dapat mengenal tokoh melalui lagu, remaja melalui pertunjukan atau rekaman, mahasiswa melalui kajian sejarah, dan masyarakat luas melalui kegiatan kebudayaan.

Solidaritas yang sehat tidak dibangun dengan menganggap kelompok sendiri selalu benar atau lebih tinggi daripada kelompok lain. Solidaritas idealnya tumbuh dari nilai bersama sekaligus tetap menghormati martabat manusia di luar kelompok.

 

3.    Pahlawan Nasional dan perluasan identitas dari komunitas menuju bangsa

Penyebutan Maulanassyaikh sebagai Pahlawan Nasional memiliki arti sosiologis yang penting. Identitas seseorang dapat mencakup banyak lingkaran (keluarga, komunitas keagamaan, daerah, organisasi, dan bangsa). Identitas-identitas tersebut tidak harus saling meniadakan. Maulanassyaikh dapat dikenang sebagai guru umat, pendiri organisasi, tokoh pendidikan di Lombok, dan Pahlawan Nasional Indonesia. Pengakuan negara atas jasa beliau memperluas ruang ingatan tentang perjuangannya melampaui komunitas tempat beliau berkiprah. Hal ini membawa pesan bahwa kecintaan kepada guru dan organisasi dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab kebangsaan.

Kader yang meneladani Maulanassyaikh idealnya tidak hanya bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk kelompok saya?” tetapi juga, “Apa manfaat keberadaan saya bagi masyarakat dan bangsa?” Pertanyaan kedua tersebut penting agar kesetiaan kepada identitas tidak berubah menjadi sikap tertutup, melainkan menjadi sumber pengabdian yang lebih luas (Samikna waatho’na).

 

4.    Syair dapat menjadi alat evaluasi sosial yang santun

Pesan tentang suara makmum dan imam juga dapat dibaca dalam konteks kehidupan sosial. Dalam masyarakat, suara yang paling keras belum tentu suara yang paling benar. Orang yang memiliki jabatan, akses media, atau kemampuan berbicara lebih besar belum tentu mempunyai pertimbangan paling bijaksana.

Syair dapat mengingatkan masyarakat bahwa keteraturan membutuhkan adab, sementara keadilan membutuhkan kesempatan untuk menyampaikan pendapat. Karena itu, metafora tersebut tidak seharusnya dipakai untuk menganggap suara anggota yang lebih kecil selalu kurang penting. Sebaliknya, ia dapat mengajarkan bahwa setiap suara harus ditempatkan sesuai konteksnya.

Dalam salat berjamaah, imam memimpin gerakan dan bacaan yang menjadi acuan makmum. Dalam kehidupan sosial, seorang pemimpin juga memiliki tanggung jawab memberikan arah. Masyarakat bukan sekadar kumpulan orang yang harus diam. Masyarakat yang sehat membutuhkan pemimpin yang mampu mendengar dan anggota yang mampu menyampaikan aspirasi secara bertanggung jawab.

 

Kebersamaan tidak lahir karena semua orang kehilangan suaranya,

tetapi karena setiap orang memahami cara menggunakan suaranya

untuk menjaga kebaikan bersama.

 

SYA’IR TGH. LALU ANAS HASYRI PERSPEKTIF ORGANISATORIS

(Pesan Tentang Imam Dan Makmum Sebagai Etika Kepemimpinan)

Inilah bagian yang menurut al-faqir paling strategis untuk direnungkan oleh para pengurus, pimpinan, kader, pendidik, dan seluruh warga Nahdlatul Wathan. Ungkapan yang disampaikan dalam syair, yakni jangan sampai suara makmum lebih besar daripada suara imam, dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan kepemimpinan, loyalitas, koordinasi, pembagian peran, disiplin organisasi, dan penyelesaian konflik.

Penafsirannya harus dilakukan secara hati-hati. Kita tidak dapat memastikan bahwa inilah maksud asli pencipta syair tanpa mengetahui bait lengkap dan penjelasan beliau. Yang kita lakukan di sini adalah mengembangkan kemungkinan maknanya sebagai refleksi organisatoris.

 

1.    Imam adalah pemimpin yang memberikan arah

Dalam salat berjamaah, imam menjadi acuan gerakan makmum. Imam tidak berdiri di depan sekadar agar terlihat, tetapi menjalankan fungsi kepemimpinan dalam ibadah. Secara organisatoris, analogi ini mengingatkan bahwa pemimpin perlu memberikan arah yang jelas. Organisasi akan mengalami kebingungan apabila pemimpinnya tidak menyampaikan prioritas, tidak menjelaskan keputusan, atau tidak konsisten dalam menjalankan amanah.

Pemimpin organisasi yang baik setidaknya harus mempunyai tiga kualitas

  1. Kejelasan arah, artinya mampu menjelaskan tujuan dan prioritas organisasi.
  2. Keteladanan, maknanya menunjukkan kesesuaian antara perkataan dan tindakan.
  3. Tanggung jawab, yaitu bersedia mempertanggungjawabkan keputusan serta menerima evaluasi.

Pemimpin bukan sekadar orang yang paling tinggi jabatannya. Ia harus menjadi orang yang membantu organisasi bergerak menuju tujuan bersama. Keteladanan Maulanassyaikh, warisan seorang pendiri perlu dibaca sebagai sumber inspirasi untuk membangun kepemimpinan yang berorientasi pada ilmu, pengabdian, pendidikan, dan kemaslahatan. Peran Maulanassyaikh dalam mendirikan Nahdlatul Wathan dan membangun pendidikan Islam merupakan bagian penting dari warisan tersebut.

2.    Makmum adalah bagian penting dari keberhasilan kepemimpinan

Makmum tidak boleh dipahami sebagai pihak yang tidak mempunyai nilai. Tanpa makmum, tidak ada jamaah dalam pengertian salat berjamaah. Begitu pula organisasi. Pemimpin tidak mungkin menjalankan seluruh pekerjaan sendirian. Organisasi memerlukan pengurus, anggota, pendidik, santri, relawan, dan seluruh unsur yang menjalankan tugasnya masing-masing. Metafora imam dan makmum sebenarnya dapat dibaca sebagai pengingat tentang hubungan antara kepemimpinan dan kebersamaan. Pemimpin memerlukan anggota yang bersedia bekerja sama. Anggota memerlukan pemimpin yang mampu memberikan arah. Keduanya memerlukan tujuan yang sama dan aturan yang disepakati. Dari sini kita dapat merumuskan prinsip sederhana

 

Pemimpin tanpa dukungan anggota akan kehilangan daya gerak,

sedangkan anggota tanpa koordinasi kepemimpinan berisiko kehilangan arah.

 

3.    Apakah suara makmum yang lebih keras selalu berarti pembangkangan?

Jawaban singkat “tidak selalu”. Di sinilah diperlukan kedewasaan dalam menafsirkan pesan syair. Suara yang keras dalam konteks salat berjamaah memiliki makna berbeda dari suara anggota dalam rapat organisasi. Dalam salat, makmum mengikuti tata cara ibadah yang memiliki ketentuan tersendiri. Dalam organisasi, anggota mempunyai hak dan tanggung jawab untuk menyampaikan kritik, memberikan masukan, mengoreksi kekeliruan, serta meminta pertanggungjawaban pengurus sesuai aturan yang berlaku.

Pesan tersebut tidak tepat jika dipakai untuk membenarkan pembungkaman kritik atau menganggap setiap ketidaksetujuan sebagai bentuk ketidakloyalan. Yang perlu dikendalikan bukan suara anggota itu sendiri, melainkan cara menggunakan suara agar tidak merusak komunikasi dan tujuan bersama.

Ada perbedaan mendasar antara tiga keadaan berikut, pertama, kritik konstruktif diperlukan untuk menjaga agar organisasi tetap berjalan sesuai dengan tujuan, aturan, dan prinsip yang telah disepakati. Setiap anggota memiliki hak untuk menyampaikan keberatan apabila menemukan kebijakan atau tindakan yang dianggap kurang tepat. Kritik harus disampaikan secara objektif, santun, dan disertai alasan yang jelas serta solusi yang dapat dipertimbangkan. Kritik tidak dipandang sebagai serangan terhadap individu, melainkan sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab terhadap kemajuan organisasi.

Kedua, Perbedaan Pendapat yang Sehat. Perbedaan pendapat yang sehat merupakan bentuk dinamika organisasi yang dapat mendorong lahirnya gagasan baru dan keputusan yang lebih baik. Dalam kondisi ini, setiap anggota diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan, mengemukakan argumen berdasarkan fakta, serta mempertimbangkan sudut pandang orang lain. Tujuan utamanya bukan untuk mencari siapa yang paling benar atau memenangkan perdebatan, melainkan untuk menemukan keputusan terbaik bagi kepentingan bersama. Sikap saling menghormati, keterbukaan, dan kesediaan menerima masukan menjadi unsur penting dalam membangun budaya organisasi yang sehat.

Ketiga, Persaingan Ego Destruktif. Persaingan ego destruktif merupakan perilaku yang mengutamakan kepentingan dan kemenangan pribadi di atas kepentingan organisasi. Perilaku ini dapat terlihat melalui tindakan mempermalukan rekan kerja, menjatuhkan pihak lain, memanipulasi keadaan, menyebarkan prasangka, atau menghambat pelaksanaan keputusan hanya karena tidak sesuai dengan keinginan pribadi. Jika dibiarkan, persaingan semacam ini dapat merusak kepercayaan, melemahkan solidaritas, dan menghambat pencapaian tujuan organisasi. Setiap anggota perlu mengendalikan ego, menjunjung etika, dan menempatkan kepentingan organisasi di atas ambisi pribadi. Dengan begitu, perbedaan pendapat dapat menjadi sarana perbaikan, bukan sumber perpecahan.

Organisasi yang matang tidak takut terhadap dua keadaan pertama. Justru keduanya dapat memperkuat organisasi apabila dikelola dengan baik. Yang perlu dicegah adalah keadaan ketiga. Makna yang lebih seimbang dari metafora imam dan makmum ialah bahwa setiap orang perlu mengetahui kapan harus memimpin, kapan harus mendukung, kapan harus mengoreksi, dan bagaimana menjaga agar perbedaan tidak menghancurkan kebersamaan.

 

4.    Loyalitas kepada pemimpin dan loyalitas kepada nilai perjuangan

Ini merupakan persoalan yang sangat penting dalam organisasi yang memiliki tokoh pendiri atau guru sentral. Ada perbedaan antara loyalitas kepada pribadi, loyalitas kepada jabatan, dan loyalitas kepada nilai perjuangan. Loyalitas kepada pribadi muncul karena rasa cinta, kedekatan, dan penghormatan. Loyalitas kepada jabatan berkaitan dengan pengakuan terhadap mandat kepemimpinan yang sah. Loyalitas kepada nilai perjuangan berarti menjaga cita-cita, prinsip, dan tujuan yang menjadi dasar berdirinya organisasi. Ketiganya dapat berjalan bersama, tetapi tidak selalu identik.

Seseorang dapat sangat mencintai tokoh pendiri, tetapi belum tentu memahami seluruh nilai perjuangannya. Seseorang dapat mendukung seorang pemimpin, tetapi tetap wajib menyampaikan koreksi ketika ada persoalan. Seseorang juga dapat tidak setuju dengan keputusan tertentu, tetapi tetap bekerja untuk tujuan organisasi. Penekanannya adalah menjaga adab, menghormati mekanisme kepemimpinan yang sah, dan tetap setia pada tujuan serta nilai dasar organisasi.

 

5.    Jangan sampai organisasi dipenuhi suara, tetapi kehilangan tujuan

Coba kita bayangkan sebuah organisasi yang memiliki banyak pengurus, banyak rapat, banyak pernyataan, banyak perdebatan, dan banyak kelompok yang ingin didengar. Namun, program pendidikan tidak berkembang. Pelayanan kepada masyarakat melemah. Kaderisasi tidak berjalan dengan baik. Persoalan anggota tidak tertangani. Organisasi seperti ini menghadapi masalah bukan karena kekurangan suara, melainkan karena terlalu banyak energi habis untuk persaingan internal.

Di sinilah metafora suara imam dan makmum dapat menjadi bahan introspeksi. Apakah suara kita memperjelas arah organisasi atau justru menambah kebingungan? Apakah perbedaan pendapat kita menghasilkan perbaikan atau sekadar memperpanjang pertentangan? Apakah kita bekerja demi keberhasilan organisasi atau demi pengakuan bahwa kitalah yang paling berjasa?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut relevan bagi organisasi mana pun, termasuk organisasi yang mempunyai tradisi keilmuan dan ketokohan yang kuat. Ukuran keberhasilan sebuah organisasi bukanlah seberapa keras para anggotanya berbicara tentang kebesaran pendirinya, melainkan seberapa nyata nilai-nilai pendiri itu diwujudkan dalam kehidupan.

 

6.    Mengubah keteladanan pendiri menjadi sistem organisasi

Warisan seorang tokoh besar tidak cukup dipertahankan melalui penghormatan simbolis. Warisan itu perlu diterjemahkan menjadi sistem yang membuat nilai-nilainya tetap hidup meskipun orang-orang yang pernah bertemu langsung dengannya semakin sedikit. Lima penerapan organisatoris, yaitu :

a.    Menghidupkan tradisi keilmuan, misalnya menyelenggarakan kajian karya, sejarah, pemikiran, dan metode pendidikan Maulanassyaikh secara teratur, bukan hanya pada acara peringatan.

b.    Memperkuat kaderisasi, contohnya mempersiapkan generasi muda melalui pendidikan, pendampingan, pengalaman memimpin, dan pemberian tanggung jawab secara bertahap.

c.     Membudayakan musyawarah, umpamanya dengan menyediakan ruang bagi anggota untuk menyampaikan kritik, menguji gagasan, dan memberikan masukan tanpa rasa takut dipermalukan atau dicap tidak loyal.

d.    Menegakkan akuntabilitas, dengan memastikan program, keuangan, pembagian tugas, dan keputusan organisasi dapat dijelaskan serta dievaluasi sesuai aturan.

e.    Mengutamakan manfaat, yaitu menilai keberhasilan berdasarkan kemajuan pendidikan, kualitas kader, pelayanan kepada umat, serta kontribusi terhadap masyarakat dan bangsa.

Lima langkah tersebut mengubah penghormatan kepada pendiri menjadi kebiasaan dan mekanisme organisasi yang dapat diwariskan. Dengan cara itu, nilai-nilai Maulanassyaikh tidak bergantung sepenuhnya pada keberadaan satu figur. Nilai-nilai itu tumbuh menjadi budaya bersama.

 

Menyatukan Lima Perspektif Syair TGH. Lalu Anas Hasyri Tersebut?

Jika lima perspektif yang telah dibahas sebelumnya dipadukan, syair TGH. Lalu Anas Hasyri dapat dipahami sebagai gambaran tentang kesatuan spiritualitas, ketulusan hati, kecerdasan intelektual, pengabdian, dan etika dalam kehidupan bersama. Syair tersebut tidak sekadar mengungkapkan kekaguman seorang murid kepada gurunya, melainkan juga menyampaikan nilai-nilai yang relevan bagi kehidupan pribadi, masyarakat, dan organisasi.

Zikir menjadi fondasi spiritual yang mengarahkan manusia agar menggunakan ilmu, kekuasaan, dan kemampuannya secara bertanggung jawab di hadapan Allah SWT. Kesadaran spiritual yang disertai akhlak akan menjaga seseorang dari kesombongan dan penyalahgunaan kemampuan. Hati berperan sebagai sumber ketulusan, sedangkan syair menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan melalui bahasa yang menyentuh perasaan. Keduanya menunjukkan bahwa dakwah dan pendidikan tidak hanya membutuhkan kedalaman ilmu, melainkan juga kepekaan terhadap manusia serta kemampuan menyampaikan pesan secara bermakna.

Nilai-nilai tersebut semakin nyata ketika dihubungkan dengan perjuangan Maulanassyaikh yang dikenang sebagai Pahlawan Nasional. Pengabdian beliau memberikan teladan tentang keberanian memperjuangkan cita-cita, kepedulian terhadap pendidikan, dan kesediaan mengutamakan kepentingan masyarakat serta bangsa. Penghargaan atas perjuangan tersebut tidak semestinya berhenti sebagai kebanggaan sejarah, melainkan menjadi dorongan bagi generasi penerus untuk melanjutkan pengabdian melalui karya nyata.

Warisan keilmuan Maulanassyaikh juga mengandung pesan bahwa keberhasilan seorang guru tidak hanya diukur dari banyaknya pengetahuan yang dimiliki atau diajarkan, melainkan dari manfaat ilmu tersebut bagi kehidupan manusia. Ilmu yang disertai akhlak dapat membentuk pribadi yang bertanggung jawab, melahirkan generasi yang berkualitas, dan mendorong kemajuan masyarakat. Dalam kehidupan organisasi, nilai ini berkaitan erat dengan hubungan antara imam dan makmum, yaitu pentingnya kepemimpinan yang memberikan arah serta anggota yang menjalankan tanggung jawab secara sadar, kritis, dan berorientasi pada tujuan bersama.

Kelima unsur tersebut saling melengkapi dalam membangun kehidupan yang bermakna. Zikir perlu tercermin dalam kepedulian sosial, ilmu harus berjalan bersama akhlak, seni perlu membawa pesan kebaikan, dan kepahlawanan harus dilanjutkan melalui pewarisan nilai. Organisasi pun membutuhkan adab, kepemimpinan yang bertanggung jawab, serta tata kelola yang sehat agar tetap berada pada jalur perjuangannya. Maulanassyaikh dapat dipandang bukan hanya sebagai tokoh yang dihormati, melainkan juga sebagai teladan yang nilai-nilai kehidupannya layak dipelajari dan diamalkan dalam berbagai bidang.

Refleksi Kritis Hari Ini

Pertanyaan penting setelah pelaksanaan haul bukan hanya tentang perasaan haru ketika mengenang guru, melainkan juga tentang tindakan yang dilakukan setelah peringatan berakhir. Kehadiran jamaah dalam jumlah besar, kemeriahan acara, dan ungkapan penghormatan yang disampaikan dengan penuh kekhusyukan merupakan bagian dari tradisi yang bernilai. Makna haul akan semakin mendalam ketika kecintaan kepada Maulanassyaikh mendorong perubahan perilaku, peningkatan kualitas pengabdian, dan penguatan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Refleksi pertama berkaitan dengan hubungan antara zikir dan perilaku. Kesungguhan seseorang dalam mengingat Allah SWT semestinya tercermin dalam kejujuran, kemampuan menjaga lisan, sikap menghormati sesama, serta kedewasaan dalam menghadapi perbedaan. Zikir tidak hanya menjadi amalan yang dilakukan secara lisan, melainkan juga kesadaran batin yang membimbing seseorang untuk bertindak secara benar dan menghindari perilaku yang merugikan orang lain.

Refleksi kedua menyangkut peran ilmu dalam menghasilkan kemajuan. Warisan pendidikan Maulanassyaikh perlu diteruskan melalui peningkatan mutu lembaga pendidikan, penguatan kapasitas kader, perluasan kesempatan bagi generasi muda untuk berkembang, serta penyelesaian persoalan masyarakat berdasarkan pengetahuan dan tanggung jawab. Ilmu akan memberikan manfaat yang lebih luas ketika diterapkan untuk menjawab kebutuhan nyata, bukan sekadar menjadi kebanggaan atau simbol keunggulan seseorang.

Refleksi ketiga berhubungan dengan kesetiaan kepada guru dan kemampuan membangun persatuan yang produktif. Kecintaan kepada Maulanassyaikh seharusnya memperkuat komitmen terhadap perjuangan yang diwariskannya. Persatuan tidak menuntut semua orang memiliki pandangan yang sama dalam setiap persoalan. Persatuan justru membutuhkan kedewasaan untuk mengelola perbedaan, menghormati pandangan yang beragam, dan menjaga komitmen terhadap tujuan bersama. Kritik yang disampaikan secara santun dan berdasarkan fakta dapat menjadi sarana memperbaiki keputusan serta memperkuat organisasi.

Refleksi keempat berkaitan dengan ukuran keberhasilan organisasi. Nama besar, sejarah panjang, dan penghormatan terhadap tokoh merupakan modal penting dalam menjaga identitas Nahdlatul Wathan. Nilai organisasi akan semakin kuat ketika seluruh modal tersebut menghasilkan kemajuan pendidikan, perkembangan dakwah, pelayanan sosial kemasyarakatan, serta kontribusi nyata bagi kehidupan kebangsaan. Keberhasilan perlu dilihat dari manfaat yang dirasakan masyarakat dan kualitas pengabdian yang dihasilkan, bukan semata-mata dari kebesaran simbol atau banyaknya kegiatan seremonial.

Keempat refleksi tersebut merupakan ajakan untuk melakukan introspeksi bersama, bukan untuk menghakimi individu atau kelompok tertentu. Setiap orang yang merasa menjadi bagian dari perjuangan Maulanassyaikh memiliki tanggung jawab untuk menilai dirinya sendiri, memperbaiki perilaku, dan memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan serta amanah yang diemban.

Perumpamaan imam dan makmum mengandung makna yang lebih luas daripada sekadar menjaga ketertiban. Organisasi membutuhkan pemimpin yang mampu memberikan arah, mendengarkan aspirasi, dan menjalankan amanah secara bertanggung jawab. Anggota juga perlu berperan aktif, menyampaikan kritik dengan adab, serta melaksanakan keputusan yang ditetapkan melalui mekanisme yang sah. Kebersamaan yang dewasa tumbuh ketika kepemimpinan dan partisipasi anggota berjalan seimbang, perbedaan dikelola melalui musyawarah, dan kepentingan organisasi ditempatkan di atas persaingan ego pribadi.

Penutup, Mengenang Kebesaran Guru dan Teruskan Nilai-Nilainya

Haul ke-29 Maulanassyaikh, sebagaimana tercermin dalam penampilan TGH. Lalu Anas Hasyri, menghadirkan pelajaran tentang cara seorang murid mengungkapkan kecintaan kepada gurunya melalui syair, kenangan, dan penghormatan. Ungkapan tersebut memiliki nilai emosional sekaligus spiritual karena menghubungkan pengalaman seorang murid dengan keteladanan guru yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kecintaan yang mendalam kepada seorang guru tidak cukup diwujudkan melalui pujian. Kecintaan itu perlu disertai kesungguhan untuk memahami nilai-nilai yang membuat sang guru layak dikenang dan menerapkannya dalam kehidupan. Maulanassyaikh dikenang melalui ketekunan berzikir, ketulusan hati, kecerdasan dalam berkarya, keluasan ilmu, pengabdian kepada masyarakat dan bangsa, serta nasihat yang menekankan pentingnya adab dalam kebersamaan. Nilai-nilai tersebut merupakan warisan yang dapat terus dihidupkan melalui pendidikan, dakwah, kepemimpinan, dan pelayanan sosial.

Pesan tentang imam dan makmum juga perlu dipahami secara seimbang. Kehidupan organisasi membutuhkan pemimpin yang mampu memberikan arah sekaligus bersedia mendengarkan, serta anggota yang mendukung pelaksanaan amanah tanpa kehilangan daya kritis dan tanggung jawabnya. Perbedaan pandangan perlu disampaikan melalui cara yang beradab, sedangkan keputusan harus ditempuh melalui mekanisme yang benar dan diarahkan pada kemaslahatan bersama. Sikap saling menghormati dan kesediaan melakukan koreksi menjadi landasan penting bagi organisasi yang ingin tumbuh secara sehat.

Organisasi yang sungguh-sungguh menghormati pendirinya adalah organisasi yang berusaha menghadirkan nilai perjuangan sang pendiri dalam tindakan sehari-hari. Begitu pula, murid yang mencintai gurunya tidak hanya pandai menceritakan kebesaran sang guru, melainkan juga berusaha memperbaiki akhlak, memperdalam ilmu, dan meningkatkan kualitas pengabdiannya karena pendidikan yang pernah diterimanya.

Pada akhirnya, inti pesan syair yang dipersembahkan kepada Maulanassyaikh dapat dirangkum dalam kesatuan nilai yang saling menguatkan antara zikir menjadi fondasi spiritual, hati menjadi sumber ketulusan, ilmu menjadi kekuatan untuk membangun peradaban, seni menjadi sarana penyampaian pesan, perjuangan menjadi bentuk pengabdian, dan adab menjadi penjaga hubungan antarmanusia. Seluruh nilai tersebut mengarah pada satu tujuan, yaitu memastikan bahwa warisan seorang guru besar tidak berhenti sebagai kenangan sejarah, melainkan terus berkembang menjadi akhlak, karya, pendidikan, persatuan, dan kemaslahatan bagi umat serta bangsa.

Semoga peringatan Haul ke-29 ini memperkuat kecintaan kita kepada Al-Magfurulah Maulanassyaikh sekaligus menumbuhkan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih tekun berzikir, lebih tulus dalam bersikap, lebih mendalam dalam menuntut ilmu, lebih santun dalam menyampaikan pendapat, lebih bertanggung jawab dalam menjalankan amanah, dan lebih bermanfaat bagi sesama.

 

Jangan biarkan Maulanassyaikh hanya hidup dalam syair yang kita dengarkan.

Biarlah beliau terus hidup dalam nilai yang kita amalkan, ilmu yang kita ajarkan, persatuan yang kita jaga, dan pengabdian yang kita persembahkan kepada umat serta bangsa.

 

Al-Fatihah untuk Al-Magfurulah Maulanassyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan kemuliaan kepada beliau, menerima segala amal perjuangannya, serta memberikan kekuatan kepada kita semua untuk melanjutkan nilai-nilai kebaikan yang telah diwariskannya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

 

Barakallahufina, Wallahua’lam Bissawab