
(H. Muzakkir Walad – Sekretaris PDNW Lombok Tengah – Dosen IAIH NW Lotim)
Secara normatif istilah
keanggotaan warga Nahdlatul Wathan tidak dirinci secara khusus dalam AD/ART NW.
Pada Pasal 14 dan 15 hanya mengatur kategori anggota biasa dan anggota
kehormatan namun dalam praktik sosial dan dinamika kehidupan organisasi, berkembang
suatu klasifikasi kultural yang lebih hidup dan representatif. Klasifikasi ini
lahir dari realitas interaksi, kedekatan serta bentuk partisipasi warga
terhadap perjuangan organisasi sehingga secara tidak formal dikenal tiga
istilah yang mengakar kuat, yaitu Abituren, Pencinta dan Simpatisan.
Tiga istilah Abituren, Pencinta
dan Simpatisan merupakan konstruksi keanggotaan yang khas dalam organisasi
Nahdlatul Wathan yang dicetuskan/diprakarsai oleh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul
Majid. Ketiga istilah ini tidak sekadar label administratif tetapi mencerminkan
spektrum kedekatan emosional, historis dan partisipatif seseorang terhadap
perjuangan serta nilai-nilai organisasi sekaligus dapat dipahami dalam kerangka
umum hubungan individu dengan suatu lembaga.
Abituren adalah individu yang
pernah mengikuti dan menyelesaikan pendidikan atau proses pembinaan dalam suatu
lembaga, yang dalam konteks Nahdlatul Wathan merujuk pada mereka yang pernah
menempuh dan menamatkan pendidikan di lembaga-lembaga NW. Secara umum, istilah
ini identik dengan alumni, yaitu orang yang memiliki pengalaman langsung,
keterikatan historis serta pemahaman internal terhadap nilai, sistem dan budaya
lembaga. Awalnya, sebutan ini terbatas pada alumni madrasah di pusat NW namun
seiring perkembangan organisasi, maknanya meluas mencakup seluruh alumni
lembaga pendidikan NW di berbagai daerah. Karena itu istilah Abituren memiliki
ikatan ideologis dan historis yang kuat sebagai hasil dari pengalaman langsung
dalam proses pendidikan yang ditanamkan oleh NW.
Pencinta adalah individu yang
memiliki rasa cinta, kepedulian dan keterikatan emosional terhadap suatu
organisasi atau lembaga, meskipun tidak memiliki pengalaman langsung sebagai
bagian dari sistemnya. Dalam konteks NW, mereka adalah orang-orang yang tidak
pernah mengenyam pendidikan di lembaga NW, tetapi memiliki hubungan melalui
anak, keluarga atau lingkungan yang pernah menjadi bagian dari NW. Kecintaan
tersebut tidak berhenti pada perasaan, melainkan diwujudkan dalam dukungan
aktif, keterlibatan dalam berbagai kegiatan serta partisipasi dalam
pengembangan program dan amal usaha NW. Dengan demikian, Pencinta menjadi
elemen penting dalam memperkuat jaringan sosial dan gerakan dakwah organisasi.
Simpatisan adalah individu yang
memiliki rasa simpati atau ketertarikan terhadap suatu organisasi namun
keterlibatannya bersifat tidak langsung dan cenderung pasif. Dalam konteks NW,
mereka tidak memiliki hubungan langsung, baik secara pribadi maupun keluarga,
dengan lembaga pendidikan NW. Meskipun demikian, mereka menunjukkan sikap
positif, tidak menolak dan dalam batas tertentu memberikan dukungan moral
terhadap berbagai kegiatan dan perjuangan NW. Kehadiran Simpatisan menjadi
bagian dari dukungan eksternal yang turut menjaga keberlangsungan aktivitas
organisasi.
Ketiga istilah ini menggambarkan
suatu spektrum keterikatan yang utuh dari yang paling dekat secara historis dan
struktural (Abituren), emosional dan partisipatif (Pencinta), hingga afektif
dan suportif (Simpatisan) yang secara bersama-sama berkontribusi dalam
memperkuat eksistensi dan keberlanjutan Nahdlatul Wathan sebagai gerakan
pendidikan, sosial, dan dakwah.
Wallhua'lam Bissawab
